Kesalahpahaman Sains tentang Alam yang Dianggap Benar

Kesalahpahaman Sains tentang Alam yang Dianggap Benar

Kesalahpahaman Sains tentang Alam yang Dianggap Benar – Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Meskipun bersifat universal dan berlaku sama bagi siapa saja, nyatanya sains masih kurang dipahami dengan baik bagi kalangan awam.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Wajar saja, pasalnya, tidak semua orang paham dan tertarik dengan urusan sains. Itulah kenapa, banyak kesalahpahaman dalam dunia sains yang dianggap benar oleh kalangan awam.

Nah, kali ini kita akan membahas mengenai beberapa kesalahpahaman sains tentang alam yang terlanjur dianggap benar. Dirangkum dari laman idn poker mobile Yuk, disimak artikelnya!

1. Ada tujuh warna pelangi
5 Kesalahpahaman tentang Alam yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

Secara awam, pastinya kamu tahu bahwa pelangi terdiri dari tujuh warna berbeda. Setidaknya, hal itu yang diajarkan di bangku sekolah, bukan? Urutkan saja nama mejikuhibiniu alias merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Indra penglihatan manusia sangat terbatas dan hanya bisa mengurai tujuh warna dari jutaan warna di pelangi. Bahkan, rangkaian pelangi bisa menghasilkan bentuk yang sangat luas tergantung intensitas dari sinar matahari dan titik air di udara.

2. Air hujan memiliki aroma
5 Kesalahpahaman tentang Alam yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

Hujan memang mengundang aroma khas yang akan membuat pikiran seseorang bisa merasa tenang. Akan tetapi, bukan berarti air hujan itu memiliki aroma. Jadi, dari mana aroma atau bau hujan yang menyegarkan tersebut?

Menurut laman Earth Sky, aroma alami setelah hujan turun disebabkan oleh petrikor, yakni sebuah enzim atau zat tertentu yang dihasilkan oleh tanaman. Nah, enzim tersebut akan dilepaskan ke udara di saat air hujan membasahi tanah. Lalu, senyawa dari tanaman tersebut bercampur dengan geosmin, sejenis zat kimia yang dihasilkan oleh bakteri di tanah. Kombinasi keduanya itulah yang menyebabkan munculnya aroma segar saat hujan turun.

3. Petir tidak akan menyambar di tempat sama sebanyak dua kali
5 Kesalahpahaman tentang Alam yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

Meneliti cara kerja petir tentu saja sangat sulit dan berisiko. Apakah petir tidak akan menyambar tempat yang sama untuk kedua kalinya? Well, untuk menjawab hal ini harus disertakan studi ilmiahnya, bukan?

Ilmuwan mengambil contoh dari kejadian yang terjadi di Gedung Empire State, New York. Sedikitnya, sekitar 25 kali kilatan petir menyambar puncak dari gedung tersebut per tahunnya. So, petir bisa menyambar tempat yang sama lebih dari sekali, bahkan berkali-kali.

4. Sinar matahari tidak membutuhkan waktu untuk menyinari Bumi
5 Kesalahpahaman tentang Alam yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

Tahukah kamu, bahwa masih ada banyak orang yang menganggap bahwa sinar matahari akan menyinari Bumi secara langsung tanpa melibatkan waktu? Anggapan salah kaprah ini sudah terdengar sejak lama dan sayangnya jarang mendapatkan koreksi. Sepintas, hal ini tampak sederhana dan tidak penting. Namun, bagaimanapun, sains wajib meluruskan kesalahpahaman ini.

Dicatat dalam laman resmi NASA, cahaya Matahari akan sampai ke Bumi dalam waktu 499 detik atau 8,3 menit. Hal itu diakibatkan oleh jarak antara Matahari dan Bumi sekitar 150 juta kilometer secara rata-rata. Sementara, kecepatan cahaya adalah sekitar 300 ribu km per detik. Jadi, sinar matahari masih membutuhkan waktu untuk sampai ke Bumi karena cahaya punya kecepatan yang diukur melalui satuan waktu.

5. Langit berwarna biru
5 Kesalahpahaman tentang Alam yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

Apakah langit memang berwarna biru? Jawabannya bisa ya dan tidak. Langit memang tampak biru jika dilihat dari sudut pandang pengamat di Bumi, baik itu mata manusia atau lensa optik buatan.

Hal ini disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari yang terjadi di atmosfer Bumi. Warna biru adalah warna dengan gelombang terpendek, di mana atmosfer akan membiaskan cahaya matahari yang berwarna biru sebagai warna dominan.

Namun, selain berwarna biru, langit juga berwarna ungu karena ungu adalah spektrum warna dengan gelombang terpendek, ditulis dalam Discovery Place Science. Cahaya ungu justru tersebar lebih merata ketimbang cahaya biru di langit.

Itu sebabnya, sebagian besar warna ungu sudah lebih dulu diserap dan “dihilangkan” oleh atmosfer Bumi. Hal ini pun memengaruhi indra penglihatan kita untuk tetap melihat warna biru sebagai pembiasan yang dominan di langit.