Fakta Bahwa Mars Mirip Dengan Bumi Milyaran Tahun Lalu

Fakta Bahwa Mars Mirip Dengan Bumi Milyaran  Tahun Lalu

Fakta Bahwa Mars Mirip Dengan Bumi Milyaran  Tahun Lalu – Mars adalah  planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari dewa perang Romawi, Mars. Planet ini sering dijuluki sebagai “planet merah” karena tampak dari jauh berwarna kemerah-kemerahan. Ini disebabkan oleh keberadaan besi(III) oksida di permukaan planet Mars. Mars adalah planet bebatuan dengan atmosfer yang tipis. Di permukaan Mars terdapat kawah, gunung berapi, lembah, gurun, dan tudung es.

Periode rotasi dan siklus musim Mars mirip dengan Bumi. Di Mars berdiri Olympus Mons, gunung tertinggi di Tata Surya, dan Valles Marineris, lembah terbesar di Tata Surya. Selain itu, di belahan utara terdapat cekungan Borealis yang meliputi 40% permukaan Mars. Saat Bumi mengirimkan Pathfinder bersama Sojourner pada 1996, Mars tengah diteliti sebelum dapat dipijak oleh manusia.

Drama fiksi ilmiah (sci-fi) seperti Total RecallJohn Carter, hingga The Martian pun menunjukkan mimpi manusia untuk memperluas populasinya hingga idn poker ios ke planet yang dijuluki “Planet Merah” tersebut. Akan tetapi, hingga saat ini, Mars belum menunjukkan kualitas layak huni. Tidak berhenti sampai situ, manusia berpikir untuk melakukan teraformasi pada Mars agar bisa layak huni seperti Bumi.

1. Miliaran tahun lalu, Mars mirip dengan Bumi!
Bisakah Manusia Ubah Mars agar Layak Huni? Ini Faktanya!

Miliaran tahun lalu, Mars adalah planet yang mirip dengan Bumi. Atmosfer tebal dan kaya karbon, danau dan lautan air, dan memiliki awan, Mars diuntungkan karena Matahari di waktu tersebut berukuran lebih kecil. Namun, kita harus bersyukur hidup di zaman sekarang karena Matahari di zaman tersebut lebih ganas!

Namun, sudah takdirnya Mars untuk cepat rapuh. Lebih kecil dari Bumi, Mars lebih cepat mendingin dan intinya pun membeku, sehingga medan magnetnya mati. Hal ini menyebabkan atmosfer Mars terpapar angin Matahari!

2. Angin matahari melucuti Mars!
Bisakah Manusia Ubah Mars agar Layak Huni? Ini Faktanya!

Sekadar penjelasan, inti planet Bumi masih cair. Gumpalan yang kaya akan zat besi di inti Bumi menggerakkan medan magnet Bumi yang kuat! Medan magnet ini mampu menghentikan dan membelokkan angin matahari, aliran partikel berenergi tinggi dari Matahari.

Kembali lagi, karena inti Mars membeku dan medan magnetnya mati, atmosfer Mars didera oleh angin Matahari selama lebih dari 100 juta tahun. Saat tekanan udara di Mars turun hingga mendekati vakum, lautan di permukaan menguap dan planet ini pun kering.

Tetapi, sudah ada dasar pemikiran yang melegakan. Jika Mars mirip dengan Bumi, apakah ada cara untuk mengembalikannya ke masa kejayaannya?

3. Berkaca dari pemanasan global di Bumi
Bisakah Manusia Ubah Mars agar Layak Huni? Ini Faktanya!

Kehadiran manusia di Bumi berkontribusi pada naiknya suhu planet. Kegiatan manusia menghasilkan emisi karbon selama berabad-abad dan menaikkan suhu permukaan Bumi dengan mekanisme gas rumah kaca.

Karena “selimut” karbon dioksida (CO2), sinar Matahari pun masuk dan radiasi termal terperangkap. Panas yang meningkat merampas kelembapan dari lautan dan mengubahnya menjadi uap panas yang naik ke atmosfer yang perlahan ikut panas juga.

4. Belum tentu berhasil di Mars!
Bisakah Manusia Ubah Mars agar Layak Huni? Ini Faktanya!

Kalau begitu, apakah bisa berhasil di Mars? Atmosfer di Mars sudah hilang! Namun, Mars memiliki simpanan air dalam es dan karbon dioksida beku di kutub esnya dan di bawah permukaan planet. Jika kutub es Mars bisa dihangatkan, bukan tidak mungkin karbon dioksida akan terlepas untuk memulai proses gas rumah kaca.

Namun, untuk melakukan proses fisika tersebut selesai di Mars, kita harus menunggu beberapa abad! Barulah sang Planet Merah bisa menjadi tempat yang layak huni untuk manusia Bumi. Oleh karena itu, bisa dibilang ide ini tidak akan berhasil dalam jangka pendek!

5. Masalah yang bisa menerpa manusia di Mars
Bisakah Manusia Ubah Mars agar Layak Huni? Ini Faktanya!

Masalah pertama untuk menjadikan Mars layak huni adalah “Bagaimana menghangatkan kutub es di Mars?” Untuk melakukan hal tersebut, butuh loncatan teknologi yang besar. Contoh, untuk memasang cermin raksasa di Mars, kita harus menambang mineral aluminium di Mars hingga 200 ribu ton, yang mana belum bisa dilakukan oleh manusia.

Jika masalah pertama dipecahkan, tak ada karbon dioksida yang cukup di Mars untuk memulai proses gas rumah kaca. Sekadar informasi, tekanan udara di Mars jauh lebih rendah dibandingkan Bumi. Manusia butuh atmosfer 10 kali lebih banyak di Mars agar bisa tetap hidup! Belum lagi, manusia harus memikirkan oksigen di Mars.

6. Ide besar untuk teraformasi Mars
Bisakah Manusia Ubah Mars agar Layak Huni? Ini Faktanya!

Manusia dapat mendirikan pabrik klorofluorokarbon (CFC) di Mars. Selain itu, manusia dapat mengirimkan amonia dalam jumlah besar ke Mars. Terdapat di atmosfer Bumi, amonia adalah senyawa gas rumah kaca yang bagus dan dapat terurai menjadi nitrogen yang tidak berbahaya.

Gagasan tersebut dengan asumsi kalau teknologi kita sudah maju! Setelahnya, ada satu rintangan besar yang harus dipikirkan: medan magnet. Manusia harus berpikir bagaimana cara melindungi Mars dari angin matahari, atau proses pembentukan atmosfer di Mars pun sia-sia!

Bisakah Manusia Ubah Mars agar Layak Huni? Ini Faktanya!

Salah satu solusinya, manusia dapat membangun medan elektromagnet raksasa di luar angkasa untuk membelokkan angin matahari dari Mars. Atau, kita dapat memperlengkapi planet Mars dengan superkonduktor, sehingga memberinya magnetosfer buatan.

Lingkungan Mars lebih bersahabat bagi kehidupan dibandingkan keadaan Planet Venus. Namun begitu, keadaannya tidak cukup ideal untuk manusia. Suhu udara yang cukup rendah dan tekanan udara yang rendah, ditambah dengan komposisi udara yang sebagian besar karbondioksida, menyebabkan manusia harus menggunakan alat bantu pernapasan jika ingin tinggal di sana.

Misi-misi ke planet merah ini, sampai penghujung abad ke-20, belum menemukan jejak kehidupan di sana, meskipun yang amat sederhana. Terdengar seperti fiksi ilmiah? Memang! Ini karena teknologi manusia belum mencapai level untuk mewujudkan satu pun dari gagasan tersebut.