Deretan Proyek Luar Angkasa yang Paling Banyak Menguras Dana

Deretan Proyek Luar Angkasa yang Paling Banyak Menguras Dana – Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station disingkat ISS) adalah sebuah stasiun luar angkasa modular yang terletak di orbit bumi rendah. ISS merupakan proyek gabungan multinasional yang melibatkan lima badan antariksa, mereka adalah NASA (Amerika Serikat), Roscosmos (Rusia), JAXA (Jepang), CSA (Kanada), dan ESA (Uni Eropa).

Kepemilikan dan penggunaan ISS ditetapkan oleh perjanjian dan kesepakatan antar pemerintah. Stasiun ini berfungsi sebagai laboratorium penelitian gravitasi mikro dan lingkungan luar angkasa, yang mana penelitian ilmiah ini mencakupi bidang astrobiologi, astronomi, meteorologi, fisika, dan bidang lainnya. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa.

Oleh karena itu, dunia bisa berkembang hingga sekarang ini. Bukan hanya di Bumi, manusia juga memiliki ambisi untuk mengetahui segala hal yang ada di alam semesta. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa, manusia tidak segan-segan menggelontorkan uang untuk menjelajahi luar Bumi.

Space Shuttle
6 Proyek Luar Angkasa Paling Mahal, Demi Tujuan BesarMelayani NASA sejak 1981 hingga 2011, Space Shuttle adalah sistem wahana luar angkasa orbit rendah yang bisa digunakan kembali. Sepanjang masa baktinya, Space Shuttle telah melahirkan lima wahana, yaitu:
  • Columbia (1981-2003)
  • Challenger (1983-1986)
  • Discovery (1984-2011)
  • Atlantis (1985-2011)
  • Endeavour (1992-2011)

Dengan Space Shuttle, NASA berhasil meluncurkan 135 misi luar angkasa. Beberapa misi terkenalnya adalah peluncuran HST dan ikut membantu dalam membangun ISS. Secara keseluruhan, NASA menghabiskan total US$211 miliar (Rp3,05 kuadriliun) dan US$576 juta sampai US$1,64 miliar (Rp8,32 triliun sampai Rp23,7 triliun) per peluncuran.

Global Positioning System (GPS)
6 Proyek Luar Angkasa Paling Mahal, Demi Tujuan Besar

Diluncurkan pada Februari 1978 oleh Angkatan Udara AS, Global Positioning System (GPS) sistem navigasi radio yang berbasis di luar angkasa yang dikelola oleh pemerintah AS. Dengan akurasi 10 nanosekon, teknologi pemosisian GPS memudahkan fungsi militer hingga komersial. Akan tetapi, dikarenakan fungsinya dikendalikan oleh pemerintah AS, berbagai negara berlomba-lomba mengembangkan sistem navigasi sendiri.

Hasilnya adalah BeiDou (北斗卫星导航系统) dari China, Galileo/GNSS dari Uni Eropa, dan GLONASS (ГЛОНАСС) dari Rusia. Saat ini, ada sekitar 31 satelit GPS yang mengorbit Bumi. Pengembangan dan peluncuran GPS total membutuhkan dana dari perbendaharaan AS sebesar US$12 miliar (Rp173,25 triliun). Untuk pemeliharaannya, GPS membutuhkan US$750 juta (Rp10,8 triliun) per tahun.

4. Space Launch System (SLS)
6 Proyek Luar Angkasa Paling Mahal, Demi Tujuan Besar

Space Launch System (SLS) adalah proyek sistem propulsi SHLLV yang dikerjakan NASA. Untuk saat ini, SLS adalah satu-satunya roket yang memiliki daya untuk mengirimkan Orion (beserta dengan kargo dan awak astronaut) ke Bulan pada 2022 mendatang. Jika berhasil, SLS dapat menjadi andalan manusia untuk penjelajahan di luar tata surya.

SLS adalah pengganti Space Shuttle yang sudah berhenti sejak 2011 lalu. Peluncuran SLS dan Orion termasuk ke dalam misi Artemis yang menjadi fondasi untuk eksplorasi manusia ke Mars di masa depan. Total biaya yang dikeluarkan untuk SLS adalah US$23,011 miliar (Rp332 triliun).

International Space Station (ISS)
6 Proyek Luar Angkasa Paling Mahal, Demi Tujuan Besar

Seperti namanya, International Space Station (ISS) adalah stasiun luar angkasa di orbit Bumi rendah yang diluncurkan pada November 1998 silam. Untuk meneliti astrofisika, fisika, dan bidang sains lain untuk eksplorasi luar angkasa di masa depan, ISS dibangun atas kolaborasi antara lima lembaga antariksa dunia, yaitu:

  • NASA (AS)
  • Roscosmos/Роскосмос (Rusia)
  • JAXA/国立研究開発法人宇宙航空研究開発機構 (Jepang)
  • ESA (Uni Eropa)
  • CSA (Kanada)

Dapat dilihat dari permukaan Bumi, ISS mengitari Bumi sebanyak 15 kali, dan 1 orbit memakan waktu hanya 93 menit saja. Meski begitu, ISS dibagi menjadi dua segmen, satu untuk kosmonaut dari Rusia dan satu lagi untuk para astronaut dari AS dan negara-negara lainnya.

Program pengembangan dan peluncuran ISS memakan dana sebesar US$150 juta (Rp2,16 kuadriliun). Menurut catatan NASA, per November 2021, sudah ada 249 orang dari 19 negara yang telah menyambangi ISS.

Program Apollo
6 Proyek Luar Angkasa Paling Mahal, Demi Tujuan Besar

Bermula pada 1961, Program Apollo adalah enam misi NASA yang terkenal berhasil mengantarkan manusia ke Bulan untuk pertama kalinya. Salah satu yang paling terkenal adalah Apollo 11 yang mengantarkan Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins sebagai tiga manusia pertama di Bulan pada 1969.

Dimulai dengan kegagalan yang tragis di Apollo 1 pada 1962, program Apollo  ditutup dengan manis bersama Apollo 17 pada 1972. Total, program NASA ini telah mengantarkan 12 orang ke Bulan. Tentu saja, biaya yang digelontorkan tidak kecil, yaitu di angka US$156 miliar (Rp2,25 kuadriliun).

Hubble Space Telescope
6 Proyek Luar Angkasa Paling Mahal, Demi Tujuan Besar

Hubble Space Telescope (HST) adalah salah satu dari empat satelit teleskop luar angkasa Great Observatories milik NASA. Terletak di orbit Bumi rendah, nama teleskop ini diambil dari salah satu astronom legendaris Amerika Serikat (AS), Edwin Hubble. HST mulai beroperasi sejak diluncurkan oleh Discovery pada 1990.

HST dikendalikan oleh Goddard Space Flight Center (GSFC) dan Space Telescope Science Institute (STScI). Dengan letaknya, mata lensa HST berhasil mengabadikan citra luar angkasa yang beresolusi tinggi. Bukan rahasia, tangkapan HST berkontribusi besar pada perkembangan astronomi Bumi, terutama tentang tingkat ekspansi alam semesta.

Pertama kali mau diluncurkan pada 1986, insiden Challenger terpaksa menunda peluncuran HST hingga 4 tahun. Jika dihitung, total biaya HST mencapai US$11,3 miliar (Rp163,2 triliun), yang belum termasuk biaya perawatan hingga saat ini.

Program ISS berkembang dari gabungan beberapa stasiun luar angkasa khususnya Mir 2 Rusia, Stasiun Luar Angkasa Freedom Amerika Serikat dan  Fasilitas Orbital Columbus Eropa, mewakilkan kehadiran manusia tetap di luar angkasa: telah ditempati oleh paling tidak dua orang sejak 2 November 2000.

Setiap kali pergantian awak, keempat awak lama dan baru ada di sana dan juga paling tidak satu pengunjung lainnya. Stasiun luar angkasa ini terletak di orbit sekitar Bumi dengan ketinggian sekitar 410 km, sebuah tipe orbit yang biasanya disebut orbit Bumi rendah. (Ketinggian persisnya bervariasi sejalan dengan waktu sekitar beberapa kilometer dikarenakan seretan atmosfer dan “reboost“. Stasiun ini, rata-rata, kehilangan ketinggian 100 meter perhari.) Dia mengorbit Bumi dengan periode 92 menit; pada 1 Desember 2003 dia telah menyelesaikan 33.500 orbit sejak peluncurannya.