Beberapa Variasi Alam Semesta yang Dikenal Teori Multiverse

Beberapa Variasi Alam Semesta yang Dikenal Teori Multiverse

Beberapa Variasi Alam Semesta yang Dikenal Teori Multiverse – Alam semesta adalah seluruh ruang waktu kontinu tempat kita berada, dengan energi dan materi yang dimilikinya. Usaha untuk memahami pengertian alam semesta dalam lingkup ini pada skala terbesar yang memungkinkan, ada pada kosmologi, ilmu pengetahuan yang berkembang dari fisika dan astronomi.

Saat Sony merilis teaser trailer Spider-Man: No Way Home, salah satu topik yang paling mencuat adalah “multiverse“. Sesuai namanya, teori multiverse  adalah gagasan bahwa dunia yang kita tinggali memiliki beragam versi lain. Bahkan, di alam multiverse tersebut, konon, ada versi lain dari diri kita!

Tidak diketahui, beberapa ilmuwan berpikir kalau ada variasi dunia paralel dengan jumlah tak terkira yang memiliki prinsip ilmiah dan bahkan tatanannya sendiri. Dengan kata lain, alam semesta kita mungkin hanyalah satu dari berbagai variasi alam semesta yang membentuk satu jaring multiverse yang besar.

1. Muncul dari “Teori Inflasi”
Mengenal Teori Multiverse, Versi Lain dari Alam Semesta

Dari masa para filsuf Yunani Kuno, konsep multiverse sudah umum beredar. Namun, gagasan yang mendekati multiverse berasal dari teori inflasi, hipotesis akan kejadian yang terjadi saat alam semesta kita baru terbentuk dari fase Ledakan Dahsyat (Big Bang).

Menanggapi teori inflasi, NASA mengatakan dalam waktu yang amat singkat, alam semesta – yang bahkan belum 1 detik – mengembang (ekspansi) dengan amat cepat. Konon, inflasi alam semesta diprakirakan berakhir 14 miliar tahun lalu.

“Namun, inflasi tidak berakhir pada waktu yang sama. Ada kemungkinan bahwa inflasi berakhir di satu wilayah, tetapi tetap lanjut di wilayah lain,” ujar Heling Deng, kosmolog di Arizona State University dan pakar teori multiverse dikutip Live Science.

Kemungkinan besar, saat inflasi berakhir di alam semesta ini, mungkin ada “alam semesta” lain di mana inflasi masih tetap berlanjut bahkan hingga hari ini. Dengan kata lain, ada dunia paralel lain yang terus terbentuk!

2. Alam semesta berbeda dengan hukum alam yang berbeda
Mengenal Teori Multiverse, Versi Lain dari Alam Semesta

Selain itu, alam semesta dapat mencaplok alam semesta lain yang sedang mengembang. Fenomena ini menciptakan “inflasi abadi” tanpa batas yang berisi beragam alam semesta berbeda. Dalam skenario “inflasi abadi”, tiap alam semesta memiliki prinsip ilmu fisika, koleksi partikel, dan gaya serta konstantanya sendiri.

Menurut Heling, inilah mengapa alam semesta kita memiliki hukum alam dan ilmiahnya sendiri. Itu pun, ada beberapa hal yang masih kita cari jawabannya, seperti materi dan energi gelap atau konstanta kosmologi.

“Jika multiverse ada, maka kita akan menemui konstanta kosmologi yang berbeda dengan yang kita amati di alam semesta lainnya,” ujar Heling.

3. “Kehidupan” adalah bukti multiverse
Mengenal Teori Multiverse, Versi Lain dari Alam Semesta

Ilmuwan di Blue Marble Space Institute of Science, McCullen Sandora, mengatakan bahwa kehidupan adalah bukti dari keberadaan multiverse dan adanya makhluk cerdas (manusia) yang mampu melakukan pengamatan kosmologis.

Adanya matahari, oksigen, dan senyawa lain yang beredar di sekitar kita, alam semesta yang kita huni seolah memberikan lingkungan yang tepat untuk hidup. Bagaimana dengan multiverse? McCullen mengatakan bahwa multiverse belum tentu dapat menunjang kehidupan.

“Semua keuntungan tersebut biasanya tidak terdapat di multiverse. Hal ini memberikan kemungkinan akan adanya alam semesta lain. Namun, kita tidak mengindahkannya karena sibuk mengamati alam semesta ini yang mampu mendukung kehidupan,” ujar McCullen.

Jika ada satu dunia paralel lain selain yang kita tinggali, kemungkinan besar, dunia tersebut tak mampu menopang kehidupan seperti semesta kita. Namun, dengan adanya multiverse, ada peluang bahwa kehidupan hadir di beberapa dunia paralel. Meski begitu, banyak ilmuwan yang tetap skeptis pada gagasan multiverse.

4. Mencari jejak multiverse di antara alam semesta
Mengenal Teori Multiverse, Versi Lain dari Alam Semesta

Meski banyak yang tidak setuju, banyak ilmuwan yang terus mencoba mencari bukti kuat multiverse. Salah satunya adalah hipotesis bahwa jika alam semesta lain ada di dekat alam semesta kita, seharusnya alam semesta kita sudah bertabrakan dan menciptakan jejak yang dapat terdeteksi.

Menurut blog Early Universe di University College London pada 2014, jejak ini bisa berbentuk distorsi pada radiasi latar belakang gelombang mikro kosmis (CMBR), jejak cahaya saat alam semesta terbentuk dari Big Bang atau sifat-sifat galaksi aneh lainnya. Akan tetapi, karena jejak ini tak ditemukan, konsep multiverse masih bersifat hipotesis.

5. Mencari lubang hitam demi menemukan multiverse
Mengenal Teori Multiverse, Versi Lain dari Alam Semesta

Heling memiliki pendekatan multiverse yang berbeda, yaitu dengan mencari lubang hitam! Lubang hitam yang dicari bisa jadi “bagian” dari alam semesta kita yang terpisah dan terbentuk jadi alam semestanya sendiri.

Untuk melakukannya, Heling mengandalkan proses penerowongan kuantum (quantum tunnelling). Menurutnya, jika beberapa kawasan di alam semesta ini terpisah dengan cara demikian, harusnya ada “gelembung” yang berubah jadi lubang hitam dan masih ada hingga hari ini.

“Mendeteksi lubang hitam yang aneh ini dapat menuntun kita kepada keberadaan multiverse,” imbuh Heling.

6. Doppelgänger, versi lain diri kita yang serupa namun tidak sama
Mengenal Teori Multiverse, Versi Lain dari Alam Semesta

Salah satu argumen dari keberadaan multiverse adalah kemunculan doppelgänger, atau kembaran dari diri kita yang tidak terkait secara biologis. Jika memang ada multiverse dalam jumlah tak terhingga tetapi cara penyusunan partikel tetap sama, maka pola yang sama akan terus terulang.

Berarti, ada versi diri kita yang hidup di alam semesta yang nun jauh di sana. Dikarenakan jumlah multiverse yang tak terhitung, maka tak terhitung juga kemungkinan bahwa ada berbagai versi dari diri kita yang hadir di waktu yang sama namun dengan kehidupan yang berbeda!

Mengenal Teori Multiverse, Versi Lain dari Alam Semesta

Untuk saat ini, keberadaan multiverse baru dapat kita nikmati dalam bentuk fiksi ilmiah. Tidak semudah ditunjukkan dalam film, multiverse masih abu-abu dan keberadaannya pun memicu pro dan kontra.

Sementara apa yang ada di luar alam semesta tetap menjadi rahasia ilahi, manusia dengan rasa ingin tahunya yang besar tetapi ilmu pengetahuan terbatas ingin menghampiri multiverse yang tak terbatas. Pertanyaannya, apakah umat manusia suatu saat siap dengan multiverse dan keanehannya?

Model-model ilmiah awal untuk Alam semesta dikembangkan oleh para filsuf Yunani kuno dan filsuf India kuno dan bersifat geosentris, menempatkan  Bumi di pusat Alam semesta. Selama berabad-abad, pengamatan astronomi yang lebih tepat membuat Nicolaus Copernicus mengembangkan model heliosentris dengan Matahari di pusat Tata Surya. Dalam mengembangkan  hukum gravitasi universal, Sir Isaac Newton berdasar pada karya Copernicus serta pengamatan oleh Tycho Brahe dan hukum gerak planet Johannes Kepler.

ada pertengahan terakhir abad ke-20, perkembangan kosmologi berdasarkan pengamatan, juga disebut fisika kosmologi, mengarahkan pada pembagian kata alam semesta ini, antara kosmologi pengamatan dan kosmologi teoretis; yang (biasanya) para ahli menyatakan tidak ada harapan untuk mengamati keseluruhan dari ruang waktu kontinu, kemudian harapan ini dimunculkan, mencoba untuk menemukan spekulasi paling beralasan untuk model keseluruhan dari ruang waktu, mencoba mengatasi kesulitan dalam mengimajinasikan batasan empiris untuk spekulasi tersebut dan risiko pengabaian menuju metafisika.

Alam Semesta juga dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dianggap ada secara fisik, seluruh ruang dan waktu, dan segala bentuk materi serta energi. Istilah semesta atau jagat raya dapat digunakan dalam indra kontekstual yang sedikit berbeda, yang menunjukkan konsep-konsep seperti  kosmosdunia, atau alam.