Penemuan Misteri Badai Siklon yang Terjadi di Planet Jupiter

Penemuan Misteri Badai Siklon yang Terjadi di Planet Jupiter – Jupiter atau Yupiter adalah planet terdekat kelima dari Matahari setelah Merkurius,  Venus, Bumi, dan Mars. Planet ini juga merupakan planet terbesar di Tata Surya. Jupiter merupakan raksasa gas dengan massa seperseribu massa Matahari dan dua setengah kali jumlah massa semua planet lain di Tata Surya.

Planet ini dan raksasa gas lain di Tata Surya (yaitu Saturnus, Uranus, dan Neptunus) kadang-kadang disebut planet Jovian atau planet luar. Pesawat ulang alik Amerika Serikat, Juno, berhasil mengambil gambar lima badai siklon raksasa yang terjadi di kutub selatan Planet Jupiter.

Penemuan luar biasa ini menambah daftar temuan badai siklon yang terjadi di planet terbesar di galaksi Bima Sakti ini. Sebelumnya, Juno, juga berhasil menangkap gambar delapan badai siklon di kutub utara Jupiter.

Siklon yang mengelilingi siklon
5 Misteri Badai Siklon Raksasa di Kutub Selatan Planet Jupiter

Gambar baru yang diambil Juno dengan cahaya inframerah menunjukkan bahwa siklon benar-benar membentuk pola yang aneh. Di kutub utara, delapan siklon mengelilingi satu siklon, seperti kelopak bunga. Dan di kutub selatan, satu siklon dikelilingi lima siklon. Siklon telah bertahan dalam pola ini pada dasarnya sejak Juno tiba di Jupiter.

Satu siklon berkecepatan hingga 354 km per jam

9 Fakta Jupiter, Planet Terbesar di Tata Surya | Popmama.com

Kecepatan satu siklon di kutub selatan Jupiter itu mencapai 220 mph atau 354 km/jam. Badai Katrina yang menghancurkan daratan Florida, Amerika Serikat pada 24 Agustus 1992, ditaksir mencapai 167 mph atau 276 km/jam. Menurut National Hurricane Center (NHC), kedahsyatan Katrina itu meluluhlantakkan 25.542 rumah warga dan merusak 101.241 rumah lainnya. Wuih!

Inti siklon bersifat cair namun berperilaku layaknya zat padat
5 Misteri Badai Siklon Raksasa di Kutub Selatan Planet Jupiter

Para ilmuwan memetakan medan gravitasi Jupiter dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk merekayasa interior planet. Model tersebut menunjukkan bahwa inti Jupiter yang kebanyakan terbuat dari hidrogen dan helium, berputar sebagai benda yang kaku, meskipun semuanya bersifat cair.

Para ilmuwan memprediksi, sifat unik tersebut terjadi karena gas di dalam inti siklon bermuatan listrik atau terionisasi. Hal ini menyebabkan inti cairan berputar di bagian depan magnetosfer Jupiter, medan magnet yang mengelilingi planet dan dihasilkan oleh arus listrik di dalam Jupiter.

Siklon yang tak kunjung menyatu
5 Misteri Badai Siklon Raksasa di Kutub Selatan Planet Jupiter

Tapi ada yang aneh dengan siklon kutub selatan Jupiter ini. Dalam tujuh bulan sejak para peneliti memulai pengamatan, lima siklon tersebut terus berputar dalam jarak berdekatan namun belum bergabung. Lima siklon tersebut terus mempertahankan posisinya masing-masing.

“Kami berencana untuk melanjutkan analisis kami dan memperluasnya ke pengamatan spektral dan pengamatan dari instrumen Juno lainnya seperti radiometer microwave di Juno yang dapat melihat lebih dalam di atmosfer, lebih dari sekadar instrumen inframerah,” kata Adriani.

Diameter satu siklon lebih lebar daripada jarak Naples, Italia hingga New York, Amerika Serikat
5 Misteri Badai Siklon Raksasa di Kutub Selatan Planet Jupiter

Para peneliti yang bekerja National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengakui, sebelum Juno terbang menunaikan misinya meneliti Jupiter, mereka tidak mengetahui bagaimana kondisi cuaca di setiap kutubnya. Kini, mereka bisa mengamatinya setiap dua bulan sekali.

Bahkan, menurut peneliti utama Alberto Adriani dalam sebuah pernyataan resmi mengungkapkan, masing-masing siklon utara diameternya hampir selebar jarak antara Naples, Italia hingga New York City.

“Dan yang (di kutub) selatan bahkan lebih besar dari itu,” cetus penulis utama studi Alberto Adriani dalam sebuah pernyataan yang dirilis Popsci.com,  waktu setempat.

Siklon yang tak kunjung menyatu
5 Misteri Badai Siklon Raksasa di Kutub Selatan Planet Jupiter

Tapi ada yang aneh dengan siklon kutub selatan Jupiter ini. Dalam tujuh bulan sejak para peneliti memulai pengamatan, lima siklon tersebut terus berputar dalam jarak berdekatan namun belum bergabung. Lima siklon tersebut terus mempertahankan posisinya masing-masing.

“Kami berencana untuk melanjutkan analisis kami dan memperluasnya ke pengamatan spektral dan pengamatan dari instrumen Juno lainnya seperti radiometer microwave di Juno yang dapat melihat lebih dalam di atmosfer, lebih dari sekadar instrumen inframerah,” kata Adriani.

Jupiter telah dikenal oleh para astronom sejak zaman kuno, dan dikaitkan dengan mitologi dan kepercayaan religius banyak peradaban. Bangsa Romawi menamai planet ini dari dewa Jupiter dalam mitologi Romawi. Saat diamati dari Bumi, magnitudo tampak Jupiter dapat mencapai −2,94, yang cukup terang untuk menghasilkan bayangan, dan juga menjadikannya objek tercerah ketiga di langit malam setelah Bulan dan Venus, walaupun Mars dapat menyaingi kecerahan Jupiter pada saat tertentu.

Jupiter sebagian besar terdiri dari hidrogen dan helium. Seperempat massa Jupiter merupakan helium, walaupun jumlahnya hanya sepersepuluh komposisi Jupiter. Planet ini mungkin memiliki inti berbatu yang terdiri dari unsur-unsur berat, namun tidak memiliki permukaan yang padat layaknya raksasa gas lainnya.

Akibat rotasinya yang cepat, planet ini berbentuk bulat pepat (terdapat tonjolan di sekitar khatulistiwa Jupiter). Atmosfer luar terbagi menjadi beberapa lapisan di lintang yang berbeda, dan interaksi antara batas-batas lapisan tersebut menghasilkan badai.