Para Astronom Telah Menemukan Benda Kolosal Dirgantara

Para Astronom Telah Menemukan Benda Kolosal Dirgantara

Para Astronom Telah Menemukan Benda Kolosal Dirgantara – Indi A memiliki satu planet yang diketahui, Indi Ab, dengan massa 3,3 massa Jupiter dalam orbit hampir melingkar dengan periode sekitar 45 tahun. Indi Ab adalah  exoplanet Jovian terdekat . Sistem Indi memberikan kasus patokan untuk studi pembentukan raksasa gas dan katai coklat.

Indi A adalah bintang deret utama tipe spektral K5V. Bintang itu hanya memiliki sekitar tiga perempat massa Matahari dan 71% jari-jari Matahari. Gravitasi permukaannya sedikit lebih tinggi dari Matahari. Sifat logam sebuah bintang adalah proporsi unsur-unsur dengan nomor atom lebih tinggi dari helium, yang biasanya diwakili oleh rasio besi untuk hidrogen dibandingkan dengan rasio yang sama untuk Matahari; Indi A ditemukan memiliki sekitar 87% proporsi besi Matahari di fotosfernya.

Para ilmuwan luar angkasa dari Carneige Institution for Science yang bermarkas di idn poker ios Washington DC, Amerika Serikat dilaporkan baru saja menemukan objek yang berukuran lebih besar daripada sebuah planet namun tidak cukup sesuai untuk disebut bintang. Benda kolosal dirgantara itu disebut oleh para astronom dengan katai coklat (brown dwarfs).

1. Dua objek kolosal itu dinamai Epsilon Indi B dan Epsilon Indi C
Astronom Temukan Dua Objek Kolosal, tapi Bukan Bintang Apalagi Planet

Uniknya, para astronom tidak menemukan satu, tapi dua katai coklat yang sangat besar sehingga menantang pemahaman manusia tentang evolusi bintang. Bahkan, masing-masing katai coklat itu memiliki ukuran 70 kali lebih besar dari Jupiter, planet terbesar di tata surya Bima Sakti.

Para ilmuwan dari Carniege Institution for Science yang menemukan dua objek raksasa asing itu akhirnya memberi nama Epsilon Indi B dan Epsilon Indi C.

Saking besarnya, pada awalnya para astronom mengira dua brown dwarfs itu merupakan bintang baru yang berhasil ditemukan. Namun, teliti demi teliti, Epsilon Indi B dan C ternyata tidak menunjukkan tanda-tanda fusi nuklir yang menjadi ciri sebuah bintang.

2. Berukuran 7 kali lebih besar dari matahari
Astronom Temukan Dua Objek Kolosal, tapi Bukan Bintang Apalagi Planet

Epsilon Indi B sendiri memiliki ukuran massa 75 kali lebih besar dari Jupiter, sementara Epsilon Indi C mempunyai massa 70 kali lebih masif dari planet terbesar di galaksi Bima Sakti itu.

Sebagai perbandingan saja, matahari sebagai satu-satunya bintang dalam tata surya kita, memiliki ukuran 10 kali lebih besar daripada Jupiter atau 109 kali lebih masif daripada Bumi. Lha, dua Epsilon ini malah 70-75 kali lebih besar daripada Jupiter. Artinya, Epsilon Indi B dan C itu lebih besar tujuh kali lipat dari matahari kita.

Walau berukuran begitu besar, Epsilon Indi B dan C tak memancarkan sinar sendiri layaknya sebuah bintang pada umumnya. Para astronom pun bertanya-tanya mengapa sebuah objek luar angkasa yang begitu kolosal daripada matahari tak memiliki kemampuan untuk mengolah fusi nuklir, dirilis dari Space Daily (18/9).

3. Katai coklat adalah bintang gagal
Astronom Temukan Dua Objek Kolosal, tapi Bukan Bintang Apalagi Planet

Pada umumnya, katai coklat disebut oleh para astronomer sebagai bintang gagal. Soalnya, mereka tidak memiliki cukup massa yang diperlukan guna membuat gravitasi menekan atom hidrogen dan menyalakan tungku nuklir.

Walau demikian, masih terdapat kesempatan bahwa katai coklat akan mulai bersinar kapan saja. Tetapi, para astronom menilai tidak mungkin demikian yang terjadi pada Epsilon Indi B dan C ini.

Para ilmuwan dari Carneige Institution for Science menjelaskan lebih lanjut, guna dapat bersinar, sebuah bintang membutuhkan energi yang berasal dari atom hidrogen yang terletak jauh di dalam intinya.

Jika energi tersebut terlampau kecil, maka fusi nuklir tidak akan terjadi. Akibatnya, benda raksasa itu menjadi dingin, gelap dan berubah menjadi katai coklat. Itulah yang terjadi pada duo Epsilon Indi tersebut.

4. Serumpun tapi berbeda perilaku
Astronom Temukan Dua Objek Kolosal, tapi Bukan Bintang Apalagi Planet

Sebelumnya, guna menentukan apakah dua objek besar itu merupakan bintang, para astronom Carneige mendeteksi gerakan dua Epsilon Indi itu dari menit ke menit kemudian membandingkannya dengan perilaku bintang-bintang sejati.

Yang mengejutkan, dua objek penelitan mereka bergerak selaras seperti bintang pada umumnya. Hanya saja, dua Epsilon ini tidak bersinar alias redup dan dingin. Epsilon Indi B dan C diketahui tidak bersinar dan super-panas layaknya bintang.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa katai cokelat terbesar dan bintang paling kecil mungkin hanya memiliki sedikit perbedaan dalam jumlah massa. Walau begitu, mereka (katai coklat dan bintang) ditakdirkan untuk hidup berbeda.

Satu rumpun, yang satu redup serta dingin, sementara yang lain bersinar selama miliaran tahun,” papar Serge Dieterich, seperti yang dikutip Science Alert.

5. Mungkinkah bisa menjadi tempat yang layak huni bagi manusia pada masa mendatang?
Astronom Temukan Dua Objek Kolosal, tapi Bukan Bintang Apalagi Planet

Serge Dieterich menambahkan, bisa mengetahui adanya batasan yang lebih jelas antara bintang dan katai coklat, dapat membuat pemahaman manusia meningkat tentang bagaimana bintang-bintang berevolusi. Soalnya, para ilmuwan memiliki harapan besar untuk lebih bisa memahami matahari, satu-satunya bintang dari galaksi Bima Sakti.

“Bintang-bintang tampak begitu dekat, namun pengetahuan kita masih jauh. Apakah katai coklat mungkin saja bisa menjadi tuan rumah dari planet yang layak huni?” Dieterich bertanya-tanya.

Bintang tersebut termasuk di antara lima paradigma terdekat sebagai bintang tipe-K dari tipe di ‘titik manis’ antara bintang-bintang analog Matahari dan bintang M untuk kemungkinan kehidupan yang berevolusi, menurut analisis Giada Arney dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA.