Inilah Mitos Tentang Gerhana Matahari Yang Kamu Harus Tahu

Inilah Mitos Tentang Gerhana Matahari Yang Kamu Harus Tahu

Inilah Mitos Tentang Gerhana Matahari Yang Kamu Harus Tahu – Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga  terlihat menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari di langit bumi. Berdasarkan cara tertutupnya matahari, terdapat empat jenis gerhana matahari: gerhana matahari total, gerhana matahari cincin, gerhana matahari sebagian, dan gerhana matahari hibrida/campuran.

Walaupun bulan berukuran sekitar 400 kali lebih kecil daripada matahari, bulan terletak sekitar 400 kali lebih dekat ke bumi sehingga kedua benda langit ini tampak hampir sama besar di langit bumi. Karena orbit bulan berbentuk elips, jaraknya dari bumi sedikit berubah-ubah sehingga kadang tampak lebih besar dan mampu menutupi matahari (menyebabkan gerhana total) atau kadang lebih kecil dan hanya dapat menyebabkan gerhana matahari cincin.

Fenomena alam gerhana matahari sering kali bisa terlihat dengan jelas di Indonesia. Kita termasuk warga negara yang beruntung karena sering bisa Deposit IDN Poker Via Dana menyaksikannya. Namun tahukah kamu bahwa terdapat banyak mitos yang dikaitkan dengan peristiwa langka ini? Kamu pasti pernah mendengar salah satunya, yaitu gerhana bisa menyebabkan kebutaan.

1. Mitos 1: Melihat gerhana matahari secara langsung dapat menyebabkan kebutaan
Ini 7 Mitos Gerhana Matahari yang Harus Kamu Ketahui Kebenarannya!

Siapa yang pernah mendengar rumor yang satu ini? Bisa dibilang, ini merupakan salah satu kesalahpahaman gerhana yang paling umum terjadi. Dilansir dari LiveScience, cahaya matahari secara umum memang berbahaya untuk mata kita. Hal ini tidak hanya berlaku saat gerhana saja.

Namun menyebabkan kebutaan adalah pernyataan yang terlalu ekstrem. Melihat gerhana matahari dengan mata telanjang cukup untuk membuat kita mengalami solar retinopathy.

Mata akan menjadi kabur dan sulit untuk melihat hal-hal yang detail. Kebutaan memang mungkin terjadi jika kamu melihat gerhana dalam jangka waktu yang lama. Namun biasanya mata tidak akan mampu melakukannya.

2. Mitos 2: Matahari dimakan oleh makhluk jahat saat gerhana terjadi
Ini 7 Mitos Gerhana Matahari yang Harus Kamu Ketahui Kebenarannya!

Hanya dengan membaca pernyataan tersebut kamu tentu sudah bisa menebak kalau itu hanya mitos, kan? Masyarakat zaman dahulu percaya bahwa saat gerhana terjadi, ada makhluk jahat yang memakan Matahari. Menurut laman National Geographic, mitos ini berasal dari bangsa Viking.

Diceritakan bahwa saat itu, masyarakat melihat bayangan sepasang serigala di langit. Keduanya tampak mengejar Matahari. Setelah mereka menangkap cahayanya, gerhana pun terjadi. Itulah kenapa mereka mengira bahwa gerhana terjadi karena makhluk jahat.

3. Mitos 3: Akan menyebabkan perubahan cuaca yang berbahaya
Ini 7 Mitos Gerhana Matahari yang Harus Kamu Ketahui Kebenarannya!

Konon katanya, setelah gerhana terjadi, akan muncul embun dan kabut yang mengandung racun dari langit. Mitos ini banyak dipercaya oleh masyarakat Jepang, Alaska, dan Amerika zaman dahulu.

Nyatanya, gerhana matahari tidak akan menimbulkan perubahan cuaca yang berarti. Menurut laman Mental Floss, setelah peristiwa itu terjadi, langit akan menjadi lebih gelap daripada biasanya, suhu udara turun, serta berubahnya arah angin. Tidak ada perubahan yang membahayakan.

4. Mitos 4: Gerhana matahari dapat meracuni makanan
Ini 7 Mitos Gerhana Matahari yang Harus Kamu Ketahui Kebenarannya!

Hah, bagaimana bisa? Memang terdengar tidak mungkin, tetapi banyak orang yang percaya bahwa gerhana matahari dapat mengubah makanan menjadi beracun. Itulah kenapa kita tidak disarankan untuk makan dan minum ketika peristiwa itu terjadi.

Lagi-lagi, ini hanyalah kepercayaan yang tidak benar. Radiasi yang dipancarkan oleh gerhana matahari tidak akan mengubah senyawa dalam makanan. Tak hanya itu, tingkat radiasi sebenarnya juga tidak berubah saat gerhana. Jadi, kalau kamu ingin menyaksikan gerhana matahari sambil makan, silakan saja, ya!

5. Mitos 5: Gerhana matahari berdampak buruk terhadap kehamilan
Ini 7 Mitos Gerhana Matahari yang Harus Kamu Ketahui Kebenarannya!

Banyak pula orang yang percaya bahwa perempuan hamil yang melihat gerhana matahari akan berada dalam bahaya. Janin akan lahir cacat, buta, dan bahkan terancam nyawanya. Sedangkan sang ibu baik-baik saja.

Ini tidak benar. Satu-satunya masalah kesehatan yang patut diwaspadai saat melihat gerhana adalah solar retinopathy, seperti yang telah dijelaskan. Matahari tidak akan membahayakan janin dan ibu hamil.

6. Mitos 6: Gerhana matahari adalah tanda kematian
Ini 7 Mitos Gerhana Matahari yang Harus Kamu Ketahui Kebenarannya!

Rumor ini sudah beredar sejak berabad-abad yang lalu. Banyak yang menganggap bahwa gerhana matahari adalah tanda kematian tokoh masyarakat. Jangan salah, ini memang pernah terjadi, lho. Contohnya, King Henry I dan Yesus. Saat kedua tokoh meninggal, kabarnya langit menggelap karena gerhana matahari.

Namun hal ini hanyalah sebatas mitos. Seperti yang kita tahu, gerhana matahari adalah peristiwa yang terjadi secara alami. Tak ada pengaruh manusia dan hal-hal gaib di prosesnya. Maka dari itu, kamu tidak perlu mempercayainya, ya!

7. Mitos 7: Gerhana matahari adalah pertanda bencana
Ini 7 Mitos Gerhana Matahari yang Harus Kamu Ketahui Kebenarannya!

Langit yang menggelap secara tidak biasa saat gerhana matahari sering kali dianggap sebagai pertanda bencana. Namun anggapan ini tentu tidak benar. Semua bencana yang terjadi setelah atau berdekatan dengan gerhana matahari hanyalah sebuah kebetulan. Maka dari itu tidak ada alasan untuk percaya mitos ini.

Gerhana matahari tidak terjadi di setiap fase bulan baru, karena orbit bulan memiliki kemiringan 5° terhadap bidang ekliptika (bidang orbit bumi mengelilingi matahari) sehingga posisi bulan sering kali tidak satu bidang dengan bumi dan matahari.

Gerhana hanya terjadi jika bulan cukup dekat dengan bidang ekliptika pada saat yang bersamaan dengan bulan baru. Kedua peristiwa ini terjadi dengan jadwal berbeda: bulan baru terjadi sekali setiap 29,53 hari (bulan iqtirani atau sinodis) sedangkan bulan melintasi ekliptika dua kali setiap 27,21 hari (bulan drakonis). Karena itu, gerhana matahari maupun bulan hanya terjadi pada saat kedua peristiwa ini terjadi berdekatan, yaitu pada “musim gerhana”.