Fakta Bahwa Gempa Bukan Terpicu Oleh Gerhana Bulan Total

Fakta Bahwa Gempa Bukan Terpicu Oleh Gerhana Bulan Total

Fakta Bahwa Gempa Bukan Terpicu Oleh Gerhana Bulan Total – Gerhana  adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa  bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara  Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi.

Namun, gerhana juga terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dodo Gunawan menyebutkan, gerhana bulan total yang terjadi pada Rabu 26 Mei lalu tidak akan memicu terjadinya gempa.

Gerhana bulan, kata dia, hanya mempengaruhi pasang surut air laut. Pada Rabu 26 Mei 2021, telah terjadi gerhana bulan total yang dapat disaksikan oleh masyarakat Indonesia dengan Deposit IDN Poker Via Dana mata telanjang.

1. Gempa saat purnama hanya kebetulan
BMKG: Gerhana Bulan Total Tak Memicu Terjadinya Gempa

Hal senada juga dikatakan Kepala Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono, bahwa gerhana bulan total tidak mengakibatkan gempa. Menurutnya, jika pun terjadi gempa usai gerhana bulan, itu hanya kebetulan.

“Beberapa kasus gempa yang terjadi saat purnama hanya kebetulan dan masih sulit dibutuhkan bukti empiris,” ujar Daryono kepada IDN Times, Senin.

2. Pada 2018 gempa mengguncang Lombok sehari setelah gerhana bulan total
Gempa Lombok: Kenapa ada dua gempa berturutan dan separah apa gempa  susulannya? - BBC News Indonesia

Sebelumnya, pada 29 Juli 2018, gempa berkekuatan 6,4 Skala Richer (SR) mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gempa ini terjadi hanya sehari setelah gerhana bulan total pada 28 Juli 2018. Namun, menurut Daryono, gempa tersebut sudah biasa terjadi.

“Tiap hari ada gempa sekitar 18, ada ataupun gak ada gerhana,” ujar Daryono.

3. Fenomena gerhana bulan total yang sama baru akan terjadi di 2039
BMKG: Gerhana Bulan Total Tak Memicu Terjadinya Gempa

Fenomena gerhana bulan total atau super blood moon yang terjadi pada Rabu, 26 Mei 2021, yang bisa disaksikan dari berbagai penjuru Indonesia, diprediksi oleh Planetarium Jakarta baru dapat diamati lagi di Indonesia pada tahun 2039.

Sebagaimana dikutip dari BMKG, super blood moon terjadi karena matahari, bumi, dan bulan berada pada posisi sejajar dan di tahun ini gerhana bulan hanya terjadi dua kali, yaitu 26 Mei 2021 dan gerhana sebagian pada 19 November 2021 mendatang.

Berdasarkan gambar proses terjadinya gerhana bulan, peristiwa ini terjadi karena terhalangnya cahaya matahari yang menuju bulan oleh bumi. Sederhananya, peristiwa ini terjadi saat kedudukan bumi berada di antara bulan dan matahari atau dalam satu garis lurus.

-Gerhana bulan total: bulan berada di daerah bayangan umbra (inti) bumi)
-Gerhana bulan sebagian: bulan masuk ke dalam bayangan penumbra bumi hanya sebagian.

Adapun, gerhana bulan rata-rata terjadi selama 3 jam 40 menit. Angka ini jauh lebih lama dibandingkan dengan gerhana matahari, yakni hanya sekitar 7 menit selama berlangsung.

Cepatnya waktu gerhana matahari dikarenakan bulan memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan dengan bumi. Alhasil, lebih mudah bagi bumi untuk keluar dari bayang-bayang bulan.