Beberapa Sampel Luar Angkasa yang Diambil & Diteliti di Bumi

Beberapa Sampel Luar Angkasa yang Diambil & Diteliti di Bumi

Beberapa Sampel Luar Angkasa yang Diambil & Diteliti di Bumi – Karena  atmosfer Bumi tidak memiliki batas yang jelas, namun terdiri dari lapisan yang secara bertahap semakin menipis dengan naiknya ketinggian, tidak ada batasan yang jelas antara atmosfer dan angkasa.

Ketinggian 100 kilometer  atau 62 mil ditetapkan oleh Fédération Aéronautique Internationale  merupakan definisi yang paling banyak diterima sebagai batasan antara atmosfer dan angkasa. Pada perjalanannya, saintis sudah berhadapan dengan banyak misteri alam semesta. Beberapa di antaranya berada di Tata Surya kita ini.

Bahkan ada yang cukup dekat dengan sehingga ilmuwan bisa mengirim robot untuk menelitinya lebih lanjut. Semua robot atau wahana misi tersebut ada yang singgah dan ada juga yang menetap di planet yang mereka teliti. Namun beberapa dari yang sudah dikirim, ada yang memiliki tugas kembali ke Bumi dengan membawa pulang oleh-oleh material, mulai dari aerogel sampai kerikil.

1. Ratusan kilogram batuan Bulan dibawa pulang selama program Apollo
5 Sampel yang Diambil di Luar Angkasa untuk Diteliti di Bumi

Misi pendaratan Apollo jelas adalah proyek sains terbesar manusia. Untuk Apollo 11 saja–yang mendaratkan manusia ke Bulan pertama kali–dibutuhkan 400 ribu tenaga manusia, dan uang senilai Rp2,1 ribu triliun.

Kesampingkan tujuan ego politis perang dinginnya, Apollo membawa kemajuan teknologi dan sains yang masif. Peneliti dapat meneliti bulan, langsung dari batuan yang dibawa astronaut Apollo. Sepanjang misi Apollo, dari Apollo 11 hingga 17, total ada sekitar 382 kilogram batuan Bulan yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk diteliti lebih lanjut.

2. Masa lalu Tata Surya diungkap dengan sampel komet yang dibawa Stardust
5 Sampel yang Diambil di Luar Angkasa untuk Diteliti di Bumi

Sudah dari lama peneliti berspekulasi bahwa komet membawa material organik yang krusial untuk terbentuknya kehidupan purba di Bumi miliaran tahun lalu. Komet sudah ada sejak awal-awal Tata Surya terbentuk. Oleh karena itu, peneliti yakin bahwa komet adalah artefak yang dapat memberi petunjuk tata surya purba.

NASA meluncurkan wahana Stardust pada tahun 1999 yang misinya adalah mengambil sampel dari debu aerogel komet Wild-2 pada tahun 2004. Sampel diambil dengan kolektor pada jarak 236 kilometer dari komet dan berhasil dibawa kembali ke Bumi tahun 2006.

Salah satu penemuan menarik dari misi ini adalah ditemukannya asam amino glisin. Asam amino adalah molekul organik yang dibutuhkan makhluk hidup untuk membentuk protein dalam tubuh. Penemuan ini menguatkan hipotesis peneliti bahwa komet ikut andil dalam pembentukan kehidupan di Bumi purba miliaran tahun yang lalu.

3. Hayabusa milik Jepang adalah wahana pertama membawa pulang sampel asteroid
5 Sampel yang Diambil di Luar Angkasa untuk Diteliti di Bumi

Pernah mendengar istilah penambangan asteroid atau asteroid mining? Ada yang mengatakan bahwa asteroid di luar angkasa kaya akan logam langka mulai dari emas sampai platinum.

Walau pada praktiknya, belum ada rencana penambangan asteroid secara masif, beberapa lembaga luar angkasa sudah melakukan astreroid mining skala kecil. Tujuannya adalah meneliti batuan tersebut langsung dari kimiawi material penyusunnya. JAXA, lembaga luar angkasa dari Jepang, sudah pernah meluncurkan robot untuk mengambil sampel sejak dekade lalu.

JAXA meluncurkan wahana Hayabusa pada tahun 2003 untuk mengambil sampel batuan dari Asteroid 25143 Itokawa. Wahana tersebut sampai di asteroid pada tahun 2005 dan sukses mengantarkan sampel ke Bumi tahun 2010. Progam Hayabusa memiliki sekuel, yaitu Hayabusa2. Ia ditugaskan untuk mengambil sampel Asteroid 162173 Ryugu dan sampelnya berhasil mendarat di Bumi pada Desember 2020.

4. OSIRIS-REx milik NASA sedang perjalanan pulang membawa sampel asteroid Bennu
5 Sampel yang Diambil di Luar Angkasa untuk Diteliti di Bumi

Bukan Jepang saja yang mengirim robotnya untuk menambang asteroid. NASA juga sudah, tapi bedanya yang ini sampelnya masih dalam perjalanan menuju bumi. OSIRIS-REx adalah wahana buatan NASA yang misinya adalah mengebor sedikit Asteroid Bennu, dan membawa beberapa gram batuannya untuk dikirim ke Bumi.

Ada banyak jenis jenis asteroid di tata surya kita ini. Beberapa di antaranya memiliki potensi untuk menghantam bumi di masa depan, walaupun kecil risikonya. Asteroid Bennu adalah salah satu yang memiliki potensi tersebut.

Ia tergolong sebagai Near Earth Object (NEO) karena lintasannya yang dekat dan kadang berpotongan dengan orbit Bumi. OSIRIS-REx diutus untuk meneliti properti dari asteroid-asteroid dekat ini agar peneliti memiliki data lebih banyak tentang ancaman di masa depan.

5. Dekade mendatang, akan ada kerikil Mars dikirim ke Bumi
5 Sampel yang Diambil di Luar Angkasa untuk Diteliti di Bumi

Mars adalah tujuan absolut manusia jika ingin menjadi multiplanetary species. Dari semua objek Tata Surya, Mars merupakan planet yang paling banyak jumlah robotnya. Awal tahun ini saja, ada tiga misi terpisah, yaitu dari Amerika, Uni Emirat Arab, dan Tiongkok, yang baru tiba di sana. Salah satunya adalah rover Perseverance milik NASA.

Perseverance menjelang bulan ketujuhnya di permukaan Mars membawa kabar gembira. Rover ini sukses melakukan pengeboran dan mengambil sampel dari salah satu batu yang ada di Mars.

Sampel ini nantinya akan berjumlah puluhan dan akan dikirim ke Bumi dengan misi penjemputan khusus. Sampel ini akan datang sampai di bumi tahun 2031 dengan program Mars Sample Return yang terdiri dari roverlander yang dilengkapi roket mini, dan orbiter.

Upaya-upaya di atas dilakukan agar manusia mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam dan luas akan benda di luar angkasa. Di masa depan, pasti akan lebih banyak lagi sampel yang diambil untuk diteliti di Bumi. Kira-kira apa, ya, yang akan jadi objek penelitian selanjutnya?

Kesalahan pengertian umum tentang batasan ke angkasa adalah orbit terjadi dengan mencapai ketinggian ini. Orbit membutuhkan kecepatan orbit dan secara teoretis dapat terjadi pada ketinggian berapa saja. Gesekan atmosfer mencegah sebuah orbit yang terlalu rendah.

Ketinggian minimal untuk orbit stabil dimulai sekitar 350 km (220 mil) di atas permukaan laut rata-rata, jadi untuk melakukan penerbangan antariksa orbital sungguhan, sebuah pesawat harus terbang lebih tinggi dan (yang lebih penting) lebih cepat dari yang dibutuhkan untuk penerbangan antariksa suborbital.